Raden Trimutia Hatta [ inilah.com 29/06/2009 - 16:22 ] INILAH.COM, Jakarta – Sebagai incumbent SBY seyogianya menggunakan strategi bertahan dalam kampanyenya. Namun hasil riset Strategy Public Relations menyatakan SBY-Boediono paling banyak melakukan serangan kampanye negatif. Demokrat mengakui penyebabnya yakni Rizal Mallarangeng.
“Di internal sendiri selama ini memang mempermasalahkan sikap Rizal Mallarangeng. Rizal itu merusak citra SBY, mungkin karena itu SBY-Boediono jadi yang paling banyak menyerang,” ujar Waketum PD Achmad Mubarok kepada INILAH.COM, Jakarta, Senin (29/6).
Berdasarkan riset 1.689 berita dalam kurun 1 Juni hingga 22 Juni 2009 dari delapan koran terbitan Jakarta dan tiga media online, SBY-Boediono mendapat serangan kampanye negatif sebanyak 163 kali dan menyerang 128 kali, sedangkan Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win) 89 kali menyerang dan diserang, serta Megawati-Prabowo (Mega-Pro) menyerang sebanyak 78 kali dan diserang 67 kali.
Menurut Mubarok, serangan yang dilakukan itu lebih banyak dilakukan oleh Timkamnas SBY-Boediono dari pada dari SBY atau Boediono sendiri. “Kalau dari SBY itu yang menyerangkan kan bukan dari Pak SBY-nya tapi timnya dan itu bukan kehendak Pak SBY. Pak SBY sendiri selalu menegur timnya yang kurang proporsional,” katanya.
Mubarok mengatakan, kalau dari kubu JK-Wiranto, justru yang paling banyak menyerang itu JK-nya langsung. Sama halnya dengan kubu Mega-Prabowo yang menyerang langsung itu adalah Mega dan juga Prabowo-nya langsung.
“Jadi kalau ukurannya kandidat, SBY jadi paling kecil. Lagi pula sosilaisasi politik santun itu tidak mudah dan butuh waktu panjang, kalau sosialisasi politik kasar itu cepat. kita memang sudah menyadari bahwa berjuang dengan soft power itu tidak serta merta akan menang. Kita akan biarkan gaya ini mengalir saja,” ungkapnya. [mut]



