[ rakyatmerdeka.co.id Sabtu, 16 Mei 2009, 01:23:04 ] Luar biasa! Kata-kata itulah yang pantas menggambarkan pidato Boediono. Di luar dugaan, ternyata cawapresnya SBY ini pandai berorasi. Dia tampil mempesona dan menyihir ribuan orang yang memadati acara Deklarasi SBY Berbudi, tadi malam.
Selama 20 menit berpidato, air muka Boediono sangat tenang. Dia berbicara tanpa teks. Hanya menyiapkan lembaran yang berisi pointers penting di selembar kertas. Kalimat-kalimat yang dipilihnya menggunakan pernyataan sederhana dan mudah dicerna. Tapi tetap mencirikan sikapnya, lugas namun santun.
Bukan cuma hadirin yang terpana. Bahkan SBY yang berdiri di sampingnya juga terkesima. Ada beberapa bagian dalam kalimat pidatonya, yang membuat SBY sangat surprise sehingga dia memberikan tepuk tangannya untuk Boediono.
Isi pidato yang disampaikan bukan seperti seperti pejabat yang “kesenangan” ketika diberi jabatan baru. Tak ada pujian yang berlebihan untuk seseorang atau membanggakan prestasi diri sendiri atas capaian yang pernah dilakukan. Pernyataan SBY yang menyebut Boediono sebagai muslim yang lurus, jujur dan sederhana, seolah tak terbantahkan. Dia dengan fasih bisa mengucapkan kalimat-kalimat yang mensimbolkan bahwa dia muslim taat. Tuduhan bahwa dia kejawen dan abangan, rasanya jadi berlebihan, ketika mendengar Boediono mengucap syukur dan kata-kata pujian kepada Allah SWT dengan khidmatnya.
Ketika menceritakan tentang sistem ekonomi dan mekanisme pasar saat ini, lelaki berusia 66 tahun itu memilih kalimat-kalimat yang datar. Derasnya tuduhan bahwa dia penganut neolib tidak dijawab dengan kalimat yang keras dan bernada bantahan. Dia justru memilih menyajikan paham kerakyatan dengan bahasa yang lain.
Pidato lulusan UGM bergelar profesor doktor itu bukan diucapkan dengan gaya menggebu-gebu atau memprovokasi. Dia menyajikan nuansa lain, yang lembut, santun tapi lugas. Semua kalimatnya bernas. Dia menunjukkan sikap yang merendah dan tak punya ambisi untuk duduk di posisi itu. Dia mengucapan terimakasih kepada SBY yang telah mempercayainya jadi pendamping dalam pilpres. Dia menaruh rasa hormat, dan menyatakan tak pernah bercita-cita untuk duduk di jabatan itu. “Penunjukan ini adalah kehormatan yang amat besar bagi saya dan keluarga. Juga tak terduga-duga. Sejak awal, saya merintis karir sebagai ekonom dan guru, tidak pernah bercita-cita menduduki salah satu jabatan puncak di negara ini,” kata Boediono.
Baginya, tugas baru yang akan dihadapi memiliki tantangan yang lebih berat risikonya. Bahkan, dia sudah bisa melihatnya sejak awal.
“Ketika dipilih menjadi cawapres pun, sudah muncul kontroversi,” katanya.
Namun dia menganggap hal itu sebagai bagian dari terjadinya demokrasi yang hidup di Indonesia. Boediono dengan bangga dan malah memuji hal tersebut adalah buah jerih payah reformasi yang diperjuangkan oleh jiwa raga mahasiswa sejak 10 tahun yang lalu.
Boediono bersyukur bisa hidup di Indonesia, sedikit dari negara di dunia yang mengizinkan kebebasan berpendapat. “Di bawah pemerintahan ini, tak ada suara yang menentang dan diberangus,” katanya.
Tentang kondisi perekonomian Indonesia, Boediono menceritakannya dengan kalimat-kalimat sederhana. Bahwa meski saat ini terjadi krisis global, namun Indonesia masuk dalam tiga negara di dunia yang masih mencetak pertumbuhan positif. Dia tak memuji hal tersebut sebagai buah kerjanya di Menko Perekonomian atau Gubernur BI, tapi dia mengatakan itu sebagai prestasi pemerintahan yang dipimpin SBY.
“Di bawah pemerintahan SBY, tampak tekad mewujudkan pemerintahan yang bersih. Banyak langkah baru yang tegas sudah diambil. Pemerintahan yang bersih berarti tidak korupsi, karena korupsi adalah tindakan tak bermoral dan menggerogoti negara,” katanya.
Ketika menjawab soal isu neoliberalisme, Boediono tak membabi buta membantah tuduhan itu. Dia bahkan tak menggunakan kata-kata neoliberalisme sama sekali. Cukup menjelaskan dengan dua kalimat saja. Dan orang pun tahu, bahwa ternyata Boediono tak seburuk yang diduga mereka yang merasa paling paham ekonomi kerakyatan.
Menurut Boediono, sistem ekonomi tak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pasar bebas. “Selalu diperlukan intervensi dengan aturan main yang jelas dan adil. Untuk itu, diperlukan lembaga pelaksana yang adil. Itulah yang harus disediakan negara. Tetapi, negara jangan banyak campur tangan karena akan mematikan kreatifitas,” tegas dia. Pernyataan ini langsung mendapat tepuk tangan sangat riuh.
Tentang pemerintahan yang bersih, Boediono mengatakan, bahwa hal itu tak akan terwujud hanya karena dipidatokan. Yang terpenting adalah tauladan kepemimpinan.
“Indonesia jangan dikotori pemimpin yang main suap, memperdagangkan politik dan mencampuradukan bisnis keluarga, melainkan harus ada tindakan pemberantasan korupsi yang konsisten dan reformasi birokrasi,” katanya.
Tentang jabatan, Boediono menyebutnya sebagai kehormatan. Kehormatan yang dimaksudnya, bukan karena kedudukan, tapi karena menjalankan cita-cita yang luhur.
Di bagian akhir pidatonya, Boediono mengingatkan bahwa Indonesia harus menggugat penjajahan oleh kekuatan luar dan menunjukkan tekad dan kekuatan dari dalam. “Jangan merasa terpuruk lalu tak bisa bangkit memperbaiki diri padahal kita mampu,” ujar Boediono.
Dia menutup pidatonya dengan ucapan yang pas. Seolah ingin meneguhkan tekad dan sikapnya siap bertugas jadi wapres. “Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya siap bekerja mulai hari ini,” tutupnya. ID/BRH/WHY




tidak disangka, yang saya kira bapak hanya ekonom murni, ternyata sangat piawai dalam berorasi “politik”, dan saya yakin 100% bahwa orasi tersebut datang dari lubuk hati yang paling dalam dan bukan retorika politik atau “lips services” saja. Insya Allah saya akan mendukung pencalonan pak Boediono selaku Wapres. Amin…Amin…Amin…
Salud..!! utk Bapak SBY..
Ketika Keputusan itu di Ambil dgn melalui Konsultasi dan Meminta Lansung pada Yg Maha Mengetahui diri stiap Hamba-NYA..
Maka Tak Ada Kata Salah Pilih..
i’m Really of u Pak..
Kami tau Bapak Terus Berusaha mmberi yg trbaik bagi Bangsa ini..
Salud utk Bapak Budiyono..
Kami menerima Bapak sebagai Orang yg Terpilih utk Mmbersamai Bapak SBY dalam melanjutkan PrJuangan..
meski Awal nya kami sempat “menolak”..
itu disebabkan “kontaminasi” dan keterbatasan kami dalam mngetahui Bapak..
dan Bapak Tlah mmberi jawaban utk itu..
kami minta maaf dan terimakasih tlah mngajari kami mnjadi lbh Bijaksana..
Salam Hormat..
( Anak Bangsa yg akan mnjadi Tim Pemenangan Bapak. InsyaALLAH.. )