Sayid Yahya Asagaf, Bekas Tim Sukses & Jurkamnas SBY [ rakyatmerdeka.co.id Rabu, 06 Mei 2009, 06:51:38 ] Salah satu kunci sukses SBY di Pilpres 2004 adalah capres Partai Demokrat itu menggunakan sistem politik Daulat Hukum. Sementara lawannya menggunakan sistem “Daulat Tuanku”.
Semua itu disampaikan anggota tim sukses dan Jurkamnas SBY di Pilpres 2004, Sayid Yahya Asagaf. Menurutnya, sistem Daulat Hukum yang dianut SBY di Pilpres 2004 masih relevan digunakan di Pilpres 2009 ini.
Itu sebabnya, kakak kelas Gus Dur saat kuliah di Universitas Al Azhar, Mesir tersebut yakin, peluang SBY untuk menang di Pilpres 2009 sangat besar.
Sayid yang juga pendiri Forum Kebangsaan dan Ketua Lembaga Sangga Buana Surakarta itu menilai, saat ini SBY masih yang terbaik dibandingkan capres lainnya.
Apa saja kunci sukses SBY di Pilpres 2004? Apakah tim sukses yang lama akan dibentuk kembali? Berikut penjelasan Sayid Yahya Asagaf kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Sebagai bekas tim suksesnya SBY, apa yang menjadi modal kemenangan SBY pada Pilpres 2004 lalu?
Kalau kita kembali pada sejarah Pilpres 2004, hanya ada dua partai kecil yaitu PBB dan PKPI yang mendukung SBY sebagai kandidat capres dari Partai Demokrat. Saat itu, Partai Demokrat mendapatkan 7 persen suara di pemilu legislatif.
Saat itu, SBY bersaing dengan partai besar seperti Golkar, PDIP, PKS, PAN, dan PDS. Ditambah lagi dengan Hasyim Muzadi sebagai wapres Megawati. Hasyim Muzadi adalah ketua organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU).
Kemudian ada Gus Sholah, adik kandung Gus Dur yang diusung Golkar berpasangan dengan Wiranto. Ternyata, SBY akhirnya memenangkan pilpres karena rakyat yang menentukan pilihannya.
SBY dan timnya lebih mengetahui keadaan dan medan di Indonesia yang menjadi taruhan pertarungan.
Menurut Anda, kenapa SBY saat itu bisa menang?
Kunci sukses SBY saat itu menggunakan sistem politik Daulat Hukum. Berbeda dengan lawan-lawan politiknya yang memakai sistem politik “Daulat Tuanku”.
Apa yang dimaksud dengan sistem politik ‘Daulat Tuanku’ dan sistem politik Daulat Hukum?
Sistem “Daulat Tuanku” itu hanya dengan semangat dan keyakinan yang timbul dari alam, agenda, adat, dogma, spiritualisme, mistik, keberanian, kemarahan, dan harga diri. Sistem itulah yang dipakai oleh mereka (lawan politik SBY saat itu).
Kalau Daulat Hukum itu daulat manusia dan daulat rakyat. Sebagai faktanya, SBY membentuk badan antikorupsi yang bernama KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).
Pada zaman Orde Lama dan Orde Baru, rakyat hanyalah kawulo yang ditaklukan. Rakyat dijadikan kawulo partai politik, kawulo bapak pembangunan, kawulo bapak pemimpin revolusi, dan kawulo bapak pemimpin pembangunan.
Elite politik penganut Orba dan Orla tidak menyukai SBY karena politik SBY itu tadi, berdasarkan Daulat Hukum.
Menurut Anda, apakah strategi politik itu masih relevan digunakan pada Pilpres 2009?
Lho mereka (lawan politik SBY) masih memakai sistem “Daulat Tuanku”, kok. Ada yang minta pemilu ulang, mau gempur, ada kemarahan, dan soal harga diri. Sistem ini menyalahi dan mereka tidak mengubahnya.
Rakyat harus memilih Megawati karena anaknya Bung Karno. Milih Golkar kenapa? Karena Golkar buatannya Bapak Pembangunan (Soeharto). Nah, kalau milih SBY karena anaknya siapa coba, rakyat ini sudah ngerti dan pahamlah.
Jadi kans SBY menang lagi masih besar…
SBY akan menang lagi karena rakyat berpihak pada sistem Daulat Hukum. Dan itu terbukti di Pilpres 2004. Kemenangan SBY di Pilpres 2004 bakal terulang. Soekarno kan bilang jangan lupa akan sejarah.
Menurut Anda, apakah SBY bakal membentuk tim sukses lagi seperti di Pilpres 2004?
Ada, baru dibikin lagi.
Anda masuk di dalamnya…
Belum bisa saya cerita karena belum turun SK-nya.
Bukannya sudah dilansir di beberapa media massa bahwa tim sukses SBY adalah Tim Sembilan?
Oh tidak. Seolah-olah Tim Sembilan itu tim suksesnya SBY, itu tim dari Demokrat. Seperti di Pilpres 2004, SBY itu punya tim dari Demokrat dan ada juga di luar tim Demokrat. Misalnya, dulu ada yang namanya sekoci dan yang lainnya.
Biasanya, yang masuk dalam tim sukses SBY itu terdiri dari golongan apa saja?
Macam-macam. Semua golongan ada di situ. Mulai dari ulama, sipil, budayawan, purnawirawan TNI/Polri, dan profesi lainnya.
Kalau Anda masuk dalam tim sukses kapasitasnya sebagai apa?
Ulama atau budayawan juga bisa…
Kira-kira kapan tim sukses itu akan dibentuk?
Biasanya kalau sudah mengumumkan capres dan cawapresnya kan mulai memeriksakan kesehatan, kemudian tim itu didaftar.
Anda optimistis bisa kembali lagi masuk dalam timnya SBY?
Itu terserah Pak SBY. Kalau ngomong sekarang, seolah-olah saya mendikte Pak SBY. Kalau waktu itu, saya ini tim sukses plus jurkamnas.
Kalau misalnya SBY minta Anda bergabung lagi bagaimana?
Saya selalu siap.
Apa modal yang akan diberikan?
Dari Pilpres 2004 sampai sekarang, saya lebih banyak belajar. Belajar sejarah bangsa ini, belajar sejarah budaya. Akrab dengan semua golongan dan membaur. Saya dekat bukan hanya dengan umat Islam tapi juga dengan semua umat, baik itu dari Budha, Hindu, dan Kristiani.
Apa harapan Anda jika kelak SBY terpilih lagi?
Kalau menang lagi, kami berharap SBY betul-betul menjadikan negara ini sebagai zaman kala subur. Artinya, zaman stabilitas tanpa menindas rakyat dan kemakmuran, keadilan serta kemanusiaan.
Sebab, menurut budayawan Ronggo Warsito, ada tiga zaman, yakni pertama, Zaman Kalatida, yakni zaman ketika akal sehat diremehkan dan tidak ada perbedaan yang baik dan yang buruk. Kedua, Zaman Kalabendu, zaman yang mantap stabilitasnya tetapi alat stabilitas itu adalah penindasan dan ketidakadilan. Didewakan pejabat, dipahlawankan orang jahat dan orang jujur ditertawakan serta disingkirkan. Ulama mengkhianati kitab sucinya. Ketiga, baru Zaman Kalasubur.
Saat ini bangsa kita termasuk pada zaman apa?
Zaman kebingungan, ha…ha…ha.
Kenapa?
Karena ada tarik-menarik koalisi.
Sampai kapan kebingunan ini berakhir?
Sampai SBY menang.
Zaman kebingungan ini apa karena terpilihnya pasangan SBY-JK pada Pilpres 2004 lalu?
Oh tidak. Ini karena koalisi partai politik dan adanya keterikatan. FAZ



