Jawapos.co.id – Minggu, 05 Oktober 2008 (dian wahyudi)
Sinyal kuat bergabungnya kembali pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK) merupakan warning bagi pasangan capres lainnya, terutama Megawati Soekarnoputri. Lantas, bagaimana kans pasangan itu jika benar-benar bergabung? Apakah masih laku atau malah mereka akan menjadi pecundang? Berikut wawancara dengan Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari.
Bagaimana Anda melihat peluang kemenangan pasangan SBY-JK jika bergabung lagi?
Dari hasil survei kami terkahir Juni 2008, SBY-JK memang masih merupakan pasangan capres yang terkuat. Peluangnya masih sangat besar untuk menang. Hal itu juga diperkuat oleh hasil lembaga survei lainnya. Pasangan ini, kalau tidak di nomor satu, paling buruk ada di nomor dua.
Lantas, bagaimana peluang pasangan capres lainnya?
Pertarungan masih akan sangat terbuka. Waktunya pun masih sangat lama. Sehingga, kondisi bisa berubah kapan pun. Misalnya, kalau sekarang harga minyak dunia sedang turun, bulan depan atau kapan pun bisa melonjak kembali dengan sangat tajam. Ini akan sangat memengaruhi persepsi publik terhadap kinerja pemerintahan yang dipimpin SBY-JK saat ini. Evaluasi, penilaian, dan kritik yang akan datang tentu berkorelasi dengan tingkat popularitas mereka.
Menurut Anda, siapa yang paling berpeluang mengungguli mereka?
Hingga saat ini, memang belum muncul rising star atau new idol (idola baru) seperti fenomena kemunculan SBY saat 2004. Jadi, pertarungannya masih seputar calon-calon yang ada saja. Yang terdekat peluangnya untuk bersaing tentu saja Megawati Soekarnoputri. Tinggal bagaimana kubu Mega tidak salah lagi menentukan siapa cawapres yang akan mendampingi. Saya pikir, seharusnya PDIP belajar dari pengalaman.
Di antara SBY dan JK, siapa pula yang lebih diuntungkan kalau nanti berduet lagi?
Saya melihat, bisa jadi SBY yang akan lebih ngebet berduet lagi dengan JK. Pasalnya, sangat mungkin, SBY lebih menyandarkan diri pada aspek popularitas individu. Partai Demokrat belum akan bisa menjadi pemenang pemilu. Untuk memenangkan pemilihan, SBY tetap sangat membutuhkan mesin politik partai yang kuat. Selain itu, ada tanggungan lain, yaitu dukungan parlemen setelah terpilih. Nah, sebagai ketua umum Partai Golkar, JK pegang kunci itu.
Apakah itu berarti JK lebih punya bargaining?
Menurut saya, justru JK yang mungkin mikir-mikir akan bergabung lagi dengan SBY atau tidak. Sebab, perolehan suara partainya mungkin jauh lebih besar ketimbang Partai Demokrat pada pemilu nanti.
Jika lepas dari SBY, apakah peluang JK juga masih besar untuk terpilih?
Tentu saja. Termasuk dengan Megawati. Bahkan, kalau nanti ada calon baru yang muncul belakangan dan sangat menonjol, sangat mungkin JK pindah pasangan. Sebab, jangan lupa, sosok JK yang pragmatis dan taktis sangat memengaruhi kalkulasi dari setiap langkah politiknya. Sentuhan-sentuhannya dilandasi pertimbangan fakta politik terkini.
Di antara SBY dan JK, menurut Anda, siapa yang lebih memiliki kemampuan mendongkrak suara saat pemilihan?
Capres tentu masih di level pertama. Popularitas calon presiden masih utama untuk mengangkat perolehan suara tiap pasangan capres. SBY hingga saat ini masih berada di level teratas. Tapi, sekali lagi, dari hasil survei Indo Barometer, JK juga punya kemampuan untuk ngangkat suara. Dia bersaing dengan elektabilitas dari Sri Sultan Hamengkubuwono.



